Prev  -  Indeks   -  Next

BUKU IV:  TUGAS GEREJA MENGUDUSKAN

(Kanon 747-833)

BAGIAN I: SAKRAMEN-SAKRAMEN

Judul VI: Sakramen Tahbisan

 

 

Bab II: Calon-Calon Tahbisan

 

Artikel 3: Irregularitas dan Halangan Tahbisan (1040-1049)

1040

Hendaknya ditolak dari tahbisan mereka yang terkena oleh suatu halangan, baik yang bersifat tetap yang disebut irregularitas, maupun yang sederhana; tetapi tak satu halangan pun dikenakan, kecuali yang tercantum dalam kanon-kanon berikut ini.

 

 

1041

Irregular untuk menerima tahbisan adalah

  1. yang menderita suatu bentuk kegilaan atau penyakit psikis lain, yang sesudah berkonsultasi dengan para ahli, dinilai tidak mampu untuk melaksanakan pelayanan dengan baik;

  2. yang telah melakukan tindak pidana (delictum) kemurtadan, bidaah atau skisma;

  3. yang telah mencoba menikah, juga secara sipil saja, entah karena ia sendiri terhalang untuk melangsungkan nikah karena ikatan perkawinan atau tahbisan suci atau kaul publik kekal kemurnian, entah menikah secara tidak sah dengan wanita yang terikat perkawinan sah atau terikat kaul yang sama;

  4. yang telah melakukan pembunuhan secara sengaja atau mengusahakan pengguguran kandungan, dan berhasil, dan semua yang bekerja sama secara positif;

  5. yang telah melakukan mutilasi secara berat dan dengan maksud jahat pada diri sendiri atau orang lain, atau telah mencoba bunuh diri;

  6. yang telah melakukan suatu perbuatan tahbisan yang dikhususkan bagi mereka yang telah mendapat tahbisan Uskup atau imam, atau yang tidak memilikinya, atau dilarang melaksanakannya karena hukuman kanonik yang telah dinyatakan atau dijatuhkan.

 

 

1042

Terhalang secara sederhana untuk menerima tahbisan adalah

  1. laki-laki yang masih mempunyai istri, kecuali secara legitim diperuntukkan bagi diakonat permanen;

  2. yang melaksanakan jabatan atau administrasi yang menurut norma Kanon 285 dan Kanon 286 dilarang bagi klerikus dan masih harus dipertanggungjawabkan, sampai ia menjadi bebas setelah melepaskan jabatan dan administrasi itu serta memberikan pertanggungjawaban;

  3. baptisan baru, kecuali menurut penilaian Ordinaris sudah cukup teruji.

 

 

1043

Umat beriman kristiani berkewajiban melaporkan halangan-halangan untuk tahbisan suci, jika mengetahuinya, kepada Ordinaris atau pastor paroki sebelum penahbisan.

 

 

1044

 1

Irregular untuk melaksanakan tahbisan-tahbisan yang telah diterimanya

  1. yang meskipun terkena oleh irregularitas untuk menerima tahbisan, menerimanya secara illegitim;

  2. yang melakukan tindak pidana yang disebut dalam kanon 1041, 20,jika tindak pidana itu publik;

  3. yang melakukan tindak pidana yang disebut dalam  kanon 1041,30, 40, 50, 60.

 

 2 Terhalang untuk melaksanakan tahbisan

  1. yang meskipun terkena halangan untuk menerima tahbisan, menerimanya secara illegitim;

  2. yang menderita kegilaan atau penyakit psikis lain yang disebut dalam kanon 10411, sampai Ordinaris mengizinkan pelaksanaan tahbisan itu, sesudah berkonsultasi dengan seorang ahli.

 

1045

Ketidaktahuan akan irregularitas dan halangan tidak membebaskan dari padanya.

 

 

1046

Irregularitas dan halangan menjadi berlipat ganda dari sebab-sebabnya yang berbagai macam, tetapi tidak oleh sebab sama yang berulang-ulang, kecuali mengenai irregularitas yang timbul dari pembunuhan sengaja atau dari pengguguran terencana jika berhasil.

 

 

1047

 1 Dispensasi dari segala irregularitas direservasi hanya bagi Takhta Apostolik, jika fakta yang menjadi dasar irregularitas itu telah dibawa ke forum pengadilan.

 

 2 Bagi Takhta Apostolik itu juga direservasi dispensasi dari irregularitas dan halangan untuk menerima tahbisan berikut ini

  1. irregularitas dari tindak pidana publik yang disebut dalam  kanon 1041, 2 dan 3;

  2. irregularitas dari tindak pidana, baik publik maupun tersembunyi, yang disebut dalam  kanon 1041, 4;

  3. dari halangan yang disebut dalam  kanon 1042, 1.

 

 3 Bagi Takhta Apostolik juga direservasi dispensasi dari irregularitas untuk melaksanakan tahbisan yang telah diterima, yang disebut dalam  Kanon 10413, hanya dalam kasus-kasus publik; dan dalam kanon yang sama 4, juga dalam kasus-kasus tersembunyi.

 

 4 Dari irregularitas dan halangan yang tidak direservasi bagi Takhta Suci, Ordinaris dapat membebaskannya.

 

 

1048

Dalam kasus-kasus mendesak yang tersembunyi, jika Ordinaris tak dapat dihubungi, atau jika mengenai irregularitas yang dibicarakan dalam  kanon 10413 dan 4 Penitensiaria tidak dapat dihubungi, dan ada bahaya kerugian berat atau bahaya bagi nama baik, orang yang terhalang untuk melakukan tahbisan suci karena irregularitas, dapat melakukannya, tetapi dengan tetap ada kewajiban untuk secepat mungkin menghubungi Ordinaris atau Penitensiaria, dengan merahasiakan nama dan lewat bapa pengakuan.

 

 

 

1049

 1 Dalam permohonan untuk memperoleh dispensasi dari irregularitas dan halangan-halangan, semua irregularitas dan halangan-halangan harus disebut, tetapi dispensasi umum berlaku juga untuk yang tak dikatakan dengan itikad baik, kecuali irregularitas yang disebut dalam  Kanon 1041, 40, serta lain-lain yang telah diajukan ke pengadilan; namun tidak berlaku bagi irregularitas yang tidak dikatakan dengan itikad buruk.

 

 2 Jika mengenai irregularitas yang timbul dari pembunuhan yang disengaja atau pengguguran kandungan yang disengaja, juga jumlah tindak pidana harus ditegaskan demi sahnya dispensasi.

 

 3 Dispensasi umum dari irregularitas serta halangan untuk menerima tahbisan berlaku bagi semua tahbisan.

 

 

 

Artikel 4: Syarat Dokumenter dan Penyelidikan (1050-1052)

 

1050

Agar seseorang dapat diajukan untuk menerima tahbisan suci dituntut dokumen-dokumen sebagai berikut

  1. surat keterangan mengenai studi yang telah ditempuh dengan baik menurut norma kanon 1032;

  2. jika mengenai calon tahbisan presbiterat, surat keterangan mengenai tahbisan diakonat yang telah diterimanya;

  3. jika mengenai calon tahbisan diakon, surat keterangan baptis dan penguatan, serta telah menerima pelantikan-pelantikan yang disebut dalam kanon 1035; demikian pula surat keterangan mengenai pernyataan yang telah dibuat yang disebut dalam  kanon 1036, dan jika mengenai calon diakonat permanen yang beristri, juga surat keterangan mengenai perkawinan yang telah diteguhkan dan persetujuan istrinya.

 

 

 

1051

Untuk penyelidikan tentang kualitas yang dituntut dalam diri calon tahbisan, hendaknya ditepati ketentuan-ketentuan berikut

  1. hendaknya ada surat keterangan dari rektor seminari atau rumah pembinaan mengenai kualitas yang dituntut untuk tahbisan yang akan diterima, yakni ajaran yang benar dari si calon, kesalehan yang sejati, moral yang baik, kecakapan untuk melaksanakan pelayanan; demikian pula sesudah diadakan pemeriksaan seperlunya, surat keterangan tentang keadaan kesehatan fisik dan psikis;

  2. Uskup diosesan atau Pemimpin tinggi, agar dapat melakukan penyelidikan dengan baik, dapat menggunakan sarana-sarana lain yang ia nilai berguna menurut keadaan waktu dan tempat, seperti surat-surat kesaksian, penerbitan atau informasi-informasi lain.

 

 

1052

 1 Agar Uskup yang dengan haknya sendiri memberikan penahbisan dapat melaksanakannya, haruslah baginya pasti bahwa dokumen-dokumen yang disebut dalam  kanon 1050 itu benar-benar ada, dan sesudah diadakan penyelidikan menurut norma- norma hukum, yakin bahwa kecakapan calon telah teruji dengan argumen-argumen yang positif.

 

 2 Agar Uskup dapat melangkah lebih lanjut untuk menahbiskan bawahan orang lain, cukuplah bila surat dimisoria menyatakan bahwa dokumen-dokumen itu ada, bahwa penyelidikan telah dilakukan menurut norma hukum, dan bahwa ada kepastian mengenai kecakapan calon; jika calon itu adalah anggota suatu tarekat religius atau serikat hidup kerasulan, surat dimisoria itu harus juga menerangkan bahwa calon itu telah diterima secara definitif dalam tarekat atau serikat, serta adalah bawahan Pemimpin yang memberikan surat.

 

 3 Meskipun dalam semua hal itu tidak ada hambatan, jika atas alasan-alasan tertentu Uskup masih ragu-ragu apakah calon cakap untuk menerima tahbisan, janganlah ia menahbiskannya.

 

 

Prev  -  Indeks   -  Next